Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Olahraga    Kuliner    Film   
kunjungan pencari informasi Wisata di Donggala meningkat, terlihat dari Grafik situs www.naturalcottages.com sejak Tahun 2015 ini. Peningkatan ini terjadi di bulan April 2015 hingga september 2015, Penderita AIDS di Kabupaten Donggala meningkat dari jumlah 17 orang yang telah meninggal, 5 orang merupakan warga Kota Donggala

MOBILE STREAMING RSD FM

Loading the player...

Soman

Soman

WEB STREAMING RSDFM


Get the Flash Player to see this player.


Dengarkan di WINAMP

RADIONET HOTSPOT

RADIONET HOTSPOT

Siapakah Gubernur Pilihan Anda

Merasa di Fitnah, Bupati Donggala Doakan Wartawan Ditabrak Mobil

Merasa di fitnah oleh wartawan, Bupati Donggala, Kasman Lassa, mendoakan wartawan yang menfitnah dirinya tersebut agar rejekinya dicabut oleh Allah SWT. Selain itu, Kasman juga mendoakan wartawan yang menfitnah dirinya di tabrak mobil.

“Saya doakan wartawan yang menfitnah saya itu di putuskan oleh Allah rejekinya. Kalau dia naik motor, mudah-mudahan di tabrak mobil sampai meninggal,” katanya saat menyerahkan bonus kepada atlet Donggala, di kantor Koni Donggala, Jalan Pettalolo, Kamis (19/11) lalu.
Menurut Kasman doanya itu tidak main-main. Dia sengaja berdoa seperti itu agar tidak ada lagi wartawan yang bertugas di Donggala menulis berita yang tidak benar tentang dirinya.
“Saya tidak main-main dalam hal ini. Biar tidak ada lagi wartawan yang berani menulis sembarangan yang tidak benar tentang saya,” ungkapnya.

Kemarahan Bupati Kasman Lassa hingga mendoakan wartawan seperti itu karena dipicu soal pemberitaan yang menuding dirinya yang disinyalir terlibat dalam dugaan korupsi dana Koni Donggala Tahun Anggaran 2014. Namun anehnya, Kasman Lassa tidak menyebutkan wartawan media apa yang menulis berita fitnah tersebut.

Doa yang dipanjatkan oleh bupati Kasman Lassa tersebut dia ungkapkan di hadadapan Kapolsek Banawa,Camat Banawa dan para undangn lainnya saat memberikan sambutan pada penyerahan bonus atlet Kabupaten Donggala yang mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Poprov) Sulteng di Kabupaten Poso, November 2014 silam.

Kasman Lassa menjelaskan, kalau dirinya terlibat dalam dugaan korupsi dana Koni Donggala, sudah lama dirinya ditahan.
“Nyatanya, sampai saat ini saya tidak terbukti mengkorupsi dana Koni Kabupaten Donggala yang dituduhkan oleh wartawan tersebut dalam korannya,” jelas Kasman Lassa.

Menanggapi hal tersebut, Abde Mari, wartawan TV One Kontributor Palu mengatakan, Bupati Donggala harus mengungkapkan siapa wartawan yang sudah menulis berita fitnah tersebut.
“Bupati sebut saja siapa nama wartawanya dari media apa karena wartawan ini banyak. Profesi sebagai wartawan dilindungi oleh Undang-undang karena pers adalah pilar keempat demokrasi yang mengawal dan mengawasi kinerja pemerintah,” kata Abdee Mari kepada media ini, Selasa (24/11) kemarin.

Dia menambahkan,tentu wartawan punya alasan yang kuat mengkritisi pemerintah, namun harus berpatokan pada etika jurnalisme agar berita yang dihasilkan oleh wartawan berimbang dan tidak mengandung unsur fitnah.

Bupati Donggala, saat dikonfirmasi dinomor ponselnya 0852410182XX dan 0823942209XX untuk menjelaskan wartawan dari media mana yang memuat berita fitnah tersebut, namun  kedua nomor ponsel bupati tersebut tidak aktif dan berada diluar jangkauan. Hingga berita ini naik cetak belum ada penjelasan bupati tengan siapa wartawan yang membuat berita fitnah dan membuat bupati Kasman Lassa berang tersebut (Joko Kembara)

Menyoal Status Lahan Pembangunan Terminal


Donggala’Ta.com- Gencarnya pemberitaan media massa (koran) dan media online (digital) terkait terhambatnya pembangunan terminal penumpang di Pelabuhan Donggala yang disebabkan status lahan mendapat tanggapan beragam dari berbagai pihak di Kabupaten Donggala. Pro kontra atas hal tersebut semakin hari kian meruncing dikalangan masyarakat.

Untuk meluruskan hal itu agar tidak terjadi polemik yang berkepanjangan, tokoh muda Kabupaten Donggala, Rofandi Ibrahim, dalam releasnya kepada Donggala’Ta.com Senin (21/9) menuliskan, sebagai generasi muda Kabupaten Donggala, kita penting menyikapi berbagai persoalan pembangunan di Kabupaten Donggala.

“Terkait status lahan di areal pelabuhan Donggala, maka ada beberapa poin yang dapat saya sampaikan dalam release ini,” ungkapnya.

Pertama, Bahwa kewenangan atas pengelolaan pelabuhan Donggala (wilker) Pelabuhan Pantoloan ada pada PT. (Persero)  Pelindo IV. Kewenangan tersebut mencakup wilayah Perairan dan Wilayah Daratan. Kedua, kewenangan atas wilayah daratan dan wilayah perairan tersebut telah diatur berdasarkan SKB dua Menteri Yaitu Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perhubungan Nomor : 28/1993 dan nomor 44 /1993 tanggal 27 Februari 1993  Tentang Batas DLKr/DLKp.ketiga, dalam konteks wilayah daratan yang ada dalam kawasan Pelabuhan Donggala, sebenarnya masih  dalam wilayah pengelolaan PT. (Persero) Pelindo IV sebagaimana yang didasari atas SKB tersebut di atas.

Keempat, luas wilayah daratan yang masuk dalam penguasaan Pelindo sebesar lebih kurang 6.640 M2 (enam ribu enam ratus empat puluh meter persegi). Kelima, tanah yang rencananya akan dibangun Terminal Penumpang oleh Pemerintah Daerah sesungguhnya masuk dalam wilayah pengelolaan dan penguasaan PT. (persero) Pelindo IV. Ke enam, adapun Tanah yang berada didalam kawasan Pelabuhan Donggala yang diklaim oleh Pemda sebagai Tanah Negara sesungguhnya klaim yang tanpa dasar kuat. Termasuk pernyataan dari ahli tata ruang Ir. Faturahman Mansur yang mengatakan bahwa tanah yang berada di wilayah pelabuhan Donggala adalah Tanah Adat sesungguhnya juga pernyataan yang keliru dan tanpa dasar.

Dan yang ke tujuh, lahan yang berada dalam kawasan Pelabuhan Donggala adalah benar merupakan tanah Negara akan tetapi Hak pengelolaannya masih dalam penguasaan PT. (Persero) Pelindo IV yang berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9/HPL/BPN/90 Tentang Pemberian Hak Pengelolaan Atas Nama Perum Pelabuhan IV.

“Jadi menurut hemat Saya, Pemda Donggala harusnya tidak gegabah dalam merencanakan pembangunan terminal penumpang yang masuk dalam kawasan pelabuhan donggala karena wilayah daratan tersebut adalah wilayah hak pengelolaan PT. (Persero) Pelindo IV,” tutupnya. (Joko Kembara)

Pelindo VS Pemda Donggala

Pelindo Minta Pembangunan Terminal Laut Dihentikan

Donggala,’Ta.com – Lahan yang akan digunakan untuk pembangunan terminal laut oleh Pemerintah Kabupaten Donggala, ternyata  milik PT (Persero) Pelabuhan Indonesia atau Pelindo IV cabang Pantoloan. Fakta ini terungkap, setelah Manager PT Pelindo Kawasan Pelabuhan Donggala Cabang Pantoloan, Rudi Hartono Senin (21/9) memperlihatkan kepada Donggala'Ta,  sertifikat tanda bukti hak tertanggal 15 September 1990 dan surat ukur Nomor 4071 Tahun 1986 dari Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Donggala.
Dia mengatakan, pada dasarnya pihak Pelindo tidak punya niat menghalang-halangi pemda Donggala dalam membangun terminal laut. Namun menurutnya, sebaiknya pemda membangun komunikasi yang baik dengan pihak Pelindo, karena status lahan yang rencananya akan dibangun terminal penumpang secarah sah hak pengelolaanya milik PT Pelindo.
“Ada mekanisme yang harus dilalui jangan asal labrak. Berdasarkan surat-surat dari BPN, lahan di Pelabuhan Donggala milik Pelindo. Pemda Donggala sebaiknya menjalin komunikasi yang baik dengan Pelindo,” saranya.
Dia meminta agar pembangunan gedung terminal pelabuhan laut  dengan pagu anggaran senilai Rp1,4 miliar tersebut dihentikan dulu, karena harus menunggu persetujuan pimpinan PT Pelindo yang berada di Makassar.
“Saat ini pimpinan kami sedang melaksanakan ibadah haji jadi harus menunggu beliau dulu. Memang beberapa hari lalu ada surat pemberitahuan dari Pemda Donggala terkait pembangunan terminal. Surat itu saya sudah kirim kepimpinan cabang Pelindo di Pantoloan,” ungkapnya.
Sementara pekan lalu, kontraktor pelaksana telah membongkar satu gedung tua bekas gudang milik Pemda Donggala yang berada di pelabuhan.
Dia menegaskan bahwa pembongkaran tersebut tidak dipersoalkan karena gedung tersebut memang milik pemda Donggala, namun pembangunan terminal harus mendapat persetujuan dari PT Pelindo karena lahan tersebut secara hukum milik PT Pelindo.
Dia menerangkan bahwa sampai detik ini (senin-kemarin) pihak pemda terkesan mis komunikasi dengan pihak PT. Pelindo, terkait rencana pembangunan gedung terminal di areal Pelabuhan Donggala.
“ selama ini tidak ada komunikasi dengan pihak kami, makanya sementara kami hentikan kelanjutan pembangunan gedung terminal tersebut,” ujarnya.
Kepala Bidang Dinas Perhubungan dan Informatika Kabupaten Donggala, Tarifin Masuara, saat dihubungi media ini terkait dihentikanya pekerjaan pembangunan terminal laut oleh PT Pelindo, melalui pesan singkatnya mengatakan, pembangunan terminal sudah mau jalan sebab permasalahan dengan PT Pelindo sudah ada kesepakatan dengan Bupati. Di singgung dalam bentuk apa kesepakatnya, mantan camat Sirenja itu mengarahkan untuk mengkofermasi langsung ke Bupati Donggala, Kasman Lassa.
“Nanti konfermasi langsung ya,” tulis dia melalui ponselnya.
Sementara anggota Komisi I DPRD Donggala, Aripudin Hatba, mempertanyakan status aset Pemda Donggala yang sudah dirobohkan untuk pembangunan terminal. Menurutnya, alih fungsi aset,  penghapusan, atau menjual aset daerah harus ada persetujuan dewan sebagai lembaga pengawas pemerintah.
“Tidak seenaknya membongkar gedung yang nota bene adalah aset pemerintah kabupaten Donggala. Pihak DPRD Donggala sampai detik ini belum pula menerima laporan dari pihak aset Pemkab Donggala terkait pembongkaran gedung dan pembangunan gedung baru atau terminal pelabuhan,” tandasnya. (Joko Kembara)


BREAKING NEWS: Asap Tebal Selimuti Donggala dan Sekitarnya

NAMPAK Kabut asap menyelimuti Donggala dan sekitarana  sore ini, gambar diabadika dari puncak gunung Bale. FOTO: DEDY WATAE

DonggalaTa.com – Darurat asap yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia Barat atau di wilayah Pekanbaru, Jambi dan Palembang juga terjadi di Kabupaten Donggala, Sulteng sore ini Senin (20/9/2015).

Pantauan DonggalaTa.com dari ketinggian kurang lebih 500 kaki diatas permukaan laut atau tepat di puncak Kelurahan Gunung Bale, nampak jelas kabut asap tebal menyelimuti wilayah ini.

Belum ada keterangan resmi akan ada penanganannya oleh pemerintah Donggala mengenai kabut asap yang menyelimuti wilayah Donggala itu dan juga belum diketahui sumber kabut asap dari mana.

SITUR

Pembangunan Terminal Terkendala Lahan

Klaim Pelindo Dinilai Janggal

Lokasi Pembangunan Terminal yang di Klaim(Foto : Joko Kembara 20/9)
Donggala'Ta- Pembangunan terminal kapal laut diareal pelabuhan Donggala hingga saat ini belum bisa dilanjutkan. Pasalnya, pihak Perusahaan Indonesia (PT Pelindo), BUMN yang bergerak dibidang usaha pelabuhan  mengklaim, kalau lahan tempat terminal yang akan dibangun tersebut merupakan wilayah kelola Pelindo.

Sebelumnya, CV Pilar Nusantara, perusahaan pemenang tender lelang pembangunan terminal kapal laut dengan pagu anggaran 1 milyar lebih itu, sudah merobohkan satu gudang tua milik pemda Donggala pekan lalu diareal pelabuhan. Tapi kelanjutan pembangunan terminal akhirnya terkendala karena status lahan.

“Kalau soal gudang yang telah dirobohkan memang bukan milik Pelindo, tapi milik Pemkab Donggala. Namun kalau soal lahan, statusnya dalam pengelolaan Pelindo,” kata salah satu staf  Pelindo kawasan Donggala, Ahmad Pagessa, belum lama ini di Banawa.

Menurutnya, pembangunan terminal memang tidak ada masalah dengan Pelindo, begitu pula soal pengalihan status pelabuhan. Hanya saja berdasarkan dokumen yang ada, lahan tersebut merupakan milik Pelindo, sehingga untuk dilakukan pembangunan dia minta jangan dulu.

Sementara itu, pengamat tata ruang kota dari Universitas Tadulako, Fathurrahman Mansur, memempertanyakan soal kepemilikan tanah yang diklaim Pelindo. Karena secara historis tanah yang ada di kawasan Pelabuhan Donggala itu semula merupakan milik Raja Banawa yang kemudian diserahkan ke pemerintah setelah kepemilikannya silih berganti.

“Kalau kemudian ada sertifikat atas nama Pelindo, perlu diselidiki dulu, mana yang duluan apakah keberadaan gudang atau Pelindo. Itu yang harus diperjelas, jangan sampai menghambat suatu pembangunan apalagi sesuatu yang sudah ditender,” kata Fathurrahman Mansur.

Tetapi disisi lain, Fathurrahman juga mempertanyakan apakah pihak Pemda dalam membangun terminal pelabuhan sudah menyiapkan dokumen lingkungan.

“Hal ini penting jangan sampai pembangunan terminal ini kemudian menimbulkan dampak-dampak yang justru merugikan dari segi sosial ekonomi maupun dari sisi lingkungan,” ujarnya

Membangun terminal dengan merobohkan gudang tua di pelabuhan Donggala, menurut Fathurrahman juga menyalahi site plan, karena zona ruang tidak sesuai, apalagi dengan menghancurkan artefak sejarah kota tua.

“Ini sama saja Pemerintah Kabupaten Donggala, membangun namun sambil merusak,” kritiknya.

Sebelumnya, Bupati Donggala, Kasman Lassa, dalam berbagai kesempatan mengungkapkan, bahwa Pelabuhan Donggala akan segera jadi pelabuhan penumpang PELNI. Pelabuhan penumpang yang selama ini berada di Pantoloan, akan dipindahkan ke Donggala. Berbagai upaya sudah dilakukan oleh Pemda Donggala, salah satunya dengan melobi Kementerian Perhubungan dan MENPAN di Jakarta. (Joko Kembara)


 
Copyright © 2015 Donggala'Ta Online . All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger